Pengendalian diri
Contoh Sikap Dan Perilaku Pengendalian Diri :
1. Dalam Keluarga
- Hidup sederhana dan tidak suka pamer harta kekayaan dan kelebihannya.
- Tidak mengganggu ketentraman anggota keluarga lain.
- Tunduk dan taat terhadap aturan serta perintah orang tua.
2. Dalam Masyarakat
- Mencari sahabat sebanyak-banyaknya dan membenci permusuhan
- Saling menghormati dan menghargai orang lain
- Mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi
- Mengikuti segara aturan yang berlaku dalam masyarakat
3. Dalam Lingkungan Sekolah Dan Kampus
- Patuh dan taat pada peraturan di sekolah
- Menghormati dan menghargai teman, guru, karyawan, dll
- Berani mengatakan tidak pada ajakan dan paksaan tawuran pelajar / tawuran mahasiswa serta perbuatan tercela
- Hidup penuh kesederhanaan, tidak sombong dan gengsian
KONTROL atau pengawasan yang paling efektif adalah yang datang dari diri sendiri. Sebagaimana hadits terkenal yang berbunyi Ittaqillaha haitsu maa kunta (bertaqwalah kepada Allah dimanapun anda berada). Takwa dan takut kepada Allah swt tidak mengenal waktu dan tempat juga tidak mengenal posisi dan jabatan seseorang.
Prinsip keimanan
Menurut Ahmad Taufik Nasution dalam bukunya Metode Menjernihkan Hati ( 2005 ) sesuai dengan rukun iman, ada enam prinsip keimanan. Keenam prisip ini sangat perlu kita mantapkan apabila kita menghendaki pemberantasaan korupsi berhasil dengan efektif , yakni :
Pertama, prinsip tauhid, keimanan kepada Allah swt. Yang mengajarkan kepada kita, bahwa hidup dan mati bergantung kepada Allah swt. Prinsip tauhid menanamkan keyakinan yang sangat kuat bahwa hidup kita hanya karena Allah dan untuk Allah, dan akhirnya akan kembali kepada Allah swt. Keyakinan demikian akan menjadikan kita super hati-hati dalam berbuat dan bertindak Kalaupun satu saat tergelincir karena berbagai godaan niscaya segera kembali ke jalan-Nya.
Kedua, prinsip kepatuhan malaikat. Kita tahu bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang selalu taat dan tidak pernah berbuat masiat. Maka sebagai orang yang beriman kepada adanya para malaikat itu kita berusaha untuk mencontoh kepatuhan mereka dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Di samping itu kita sendiri yakin bahwa di kiri kanan kita ada malaikat yang selalu mencatat perbuatan baik dan buruk kita tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Maka waskat pun bisa kita artikan sebagai pengawasan malaikat yang sudah pasti akurat dibanding pengawasan melekat yang dilakukan atasan langsung.
Dalam surat Al Infithaar ( 82:10-12) Allah swt berfirman : Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ketiga, prinsip kepemimpinan para Rasul. Sesuai dengan keimanan kita kepada para Rasul, maka kita selalu berusaha untuk mencontoh Rasulullah dalam kepemimpinannya. Kita aktualisasikan sifat-sifat Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam tugas-tugas kedinasan. Siddiq (benar dalam berbuat dan bertindak). Amanah (jujur dapat dipercaya). Tabligh (menyampaikan tidak ada yang disembunyikan). Fathonah (cerdas penuh perhitungan dan bijaksana).
Keempat, prinsip Al Qur\'an. Al Quran adalah kitab Allah yang kita imani dengan penuh keyakinan, yang mengandung berbagai ajaran yang luhur. Dengan prinsip al-Quran maka kita mengaktualisasikan diri sesuai spirit al- Quran. Salah satunya adalah prinsip pembelajaran yang terus menerus. Belajar dari berbagai pengalaman keberhasilan dan kegagalan yang sudah diperbuat, sehingga hidup akan dijalani dengan penuh kehati-hatian dan perhitungan.
Orang yang meyakini al-Qur\'an tidak akan hasud atau berbuat curang karena dalam surat Zuhruf (43:32) Allah swt menyatakan : Kami telah menentukan di antara mereka porsi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Orang yang meyakini al- Quran tidak akan serakah atau berbuat licik, karena dalam surat Huud (11:6) Allah swt menyatakan : Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rizkinya.
Kelima, prinsip akhirat. Keimanan terhadap akhirat, kehidupan sesudah mati adalah faktor kunci lainnya sesudah iman kepada Allah swt yang diyakini punya daya preventif yang sangat tinggi bagi setiap orang agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan masiat. Seorang mu\'min sejati tidak mungkin berani mempertaruhkan nasibnya yang abadi di akhirat dengan kesenangan sementara di dunia. Kehidupan akhirat adalah kehidupan masa depan yang harus dipersiapkan dengan baik sejak sekarang.
Dalam surat Adh Dhuha (92:4) Allah swt berfirman : Dan sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik dari permulaan (dunia).
Keenam, prinsip qadla dan qadar. Prinsip qadla dan qadar adalah prinsip keteraturan, prinsip hidup yang mengacu kepada sunatullah dan takdir Allah swt. Dengan prinsip qadla dan qadar, seseorang akan menjalani kehidupan secara teliti sesuai dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah swt. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk berjalan menurut alur sunnatullah. Baginya kesuksesan adalah sesuatu yang harus dijemput dan diperjuangkan tanpa henti, bukan ditunggu. Usaha dan hasil yang dia dapatkan tidak diperoleh melalui proses yang kebetulan melainkan melalui perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang tepat. Penegakan hukum dan tidak tebang pilih
Selain upaya-upaya yang lebih bersifat preventif seperti diuraikan di muka, tidak kalah pentingnya adalah upaya represif terhadap orang-orang yang telah berbuat kecurangan. Yang paling utama adalah penegakan hukum yang tegas dan tidak pandang bulu, atau tebang pilih seperti diwacanakan dewasa ini. Tentu hal ini memerlukan integritas dan moralitas yang tinggi dari penguasa dan aparat penegak hukum. Terutama ketika kasus yang melanggar hukum melibatkan keluarga, sahabat atau kroninya. Pada kondisi seperti ini bisa saja komitmen yang telah dicanangkan tidak sepenuhnya dilaksanakan. Hal inilah yang akan mencederai rasa keadilan masyarakat dan yang akan mengundang protes serta ketidak puasan berkepanjangan. Rasulullah Muhammad saw sebagai panutan bagi setiap Muslim, sungguh telah memberikan contoh yang sangat baik dalam upaya penegakan hukum yang konsisten dan tidak tebang pilih. Banyak hadits yang menggambarkan betapa Rasulullah saw bertindak tegas terhadap sahabatnya yang berbuat kesalahan, dan beliau pun langsung mengoreksi pada saat itu juga. Kasusnya tidak didiamkan berlarut-larut. Berkaca kepada sejarah hidup Rasulullah saw melakukan pengawasan yang benar-benar menyatu dalam kehidupan. Jika ada seseorang yang melakukan kesalahan, maka pada saat itu juga Rasulullah saw menegurnya, sehingga tidak ada kesalahan yang didiamkan oleh Rasulullah saw saat itu. Rasulullah saw pernah melihat seseorang yang wudlunya kurang baik, ia langsung ditegur saat itu juga. Ketika ada seorang sahabat yang shalatnya kurang baik, Rasulullah saw mengatakan : Shalatlah anda karena sesungguhnya anda adalah orang yang belum melaksanakan shalat (Didin Hafidhuddin-Hendri Tanjung, Manajemen Syariah Dalam Praktik,2003). Tentang penegakan hukum yang tidak pandang bulu atau tebang pilih, cobalah kita renungkan baik-baik dua hadits yang sangat fenomenal berikut ini, diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, dus hadits yang dianggap paling shahih, sebagai berikut :
Lau kaanat Faathimatu bintii Sarokot Laqothotu Yadahaa (Seandainya putriku Fatimah mencuri, niscaya saya potong tangannya ( Riwayat Bukhari Muslim ).
Innamaa Akhlakal Ladziina Qoblakum Annahum Kaanuu Idzaa Saroko Fiihim Asy Syariif Tarokuuhu Waidzaa Saroko Fiihim Ad-Dhoiif Aqoomuu Alaihil Hadda (Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kamu dikarenakan mereka apabila ada yang mencuri orang atasan, mereka biarkan, tetapi apabila yang mencuri orang rendahan mereka mengambil tindakan tegas). ( Riwayat Bukhari Muslim). Wallohu alamu bissawab. (Penulis adalah Widyaiswara Diklatprov DKI Jakarta/Mantan Wakil Kepala Bawasda DKI Jakarta).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar