welcome

anggap rumah sendiri

Sabtu, 30 Oktober 2010

Nyok mamam

Top of Form

Bottom of Form


Resep Masakan - Chicken Cordon Bleu

Bahan:

2 dada ayam, tanpa kulit
2 lembar irisan roast beef (daging sapi panggang)
2 sdt mustard
garam & merica secukupnya

Kulit:
tepung terigu (plain flour)
tepung roti (bread crumbs)
1 butir telur kocok

Cara:
1. Belah dada ayam secara horisontal (melebar), tapi jangan sampai terpotong. Buka di tengah, lumuri dengan mustard, garam & merica.
2. Letakkan roast beef di tengah2 dada ayam, tutup kembali. Bila perlu, tusuk dengan tusuk gigi agar tidak terbuka. Taruh di kulkas selama 30 menit.
3. Labur dada ayam dengan tepung terigu, lalu celupkan dalam telur kocok. Setelah itu labur dengan tepung roti sampai seluruh permukaan dada ayam terlapisi.
4. Goreng dengan api kecil dulu. Setelah 3/4 matang, besarkan api. Jangan lupa buang tusuk gigi setelah menggoreng, sebelum menghidangkan.
5. Sajikan dengan saus tomat atau kecap manis

muslim po

ini loh, yang lg ngetren di kaum hawa

Kamis, 21 Oktober 2010

love

THE BIGEST LOVE
‘TILL THE END OF THE WORLD

Cinta, di banyak waktu dan kesempatan orang berbeda dalam mengartikannya. Manusia tidak jatuh ke dalam cinta juga tidak keluar darinya. Namun, manusia tumbuh dan besar dalam cinta. Cinta, laksana air yang terus mengalir menyusuri hamparan bumi, ia ibarat udara yang mengisi ruang-ruang kosong.

Cinta, membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Cinta juga mengajarkan kepada kita bagaimana arti sebuah pengorbanan dan memahami betapa besar kekuatan yang dihasilkannya. Dengan cinta dunia yang penat ini terasa indah. Ia juga mengajarkan kepada kita bagaimana caranya harus jujur dan berkorban, memberi dan menerima, melepas dan mempertahankan.

Telah banyak tinta sejarah mencatat kisah-kisah yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta. Badung Bondowoso, tidak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan membangun seribu candi untuk Lorojongrang seorang. Sangkuriang pun tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih, yang ternyata ibunya sendiri. Di India, Tajmahal bangunan yang maha megah juga didirikan karena cinta. Di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih, buah hati sang raja. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudra kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh konkrit dalam kehidupan, lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, Sunnah dan Alquran. Barang siapa mencinta sunnahku, berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu-persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafasnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua“, desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menyelesaikan menunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadlal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar saat itu, seluruh yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu jika mungkin.

Matahari kian meninggi, tetapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat yang membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?“ tanyanya.

Tapi Fathimah tidak mengizinkanya masuk.
“Maafkanlah, Ayahku sedang demam”, kata Fathimah yang membalikkan badannya dan menutup pintu.

Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fathimah, “Siapakah itu wahai anakku?“

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru kali ini aku melihatnya”, tutur Fathimah lembut.

Lalu Rasulullah memandang putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, dialah Malaikat Maut”, kata Rasulullah.

Fathimah pun menahan ledakan tangis. Malaikat Maut sama menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit menyambut ruh kekasih Allah.

“Jibril apa hakku nanti dihadapan Allah nanti?“ tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malikat telah menanti ruhmu. Semua surga telah terbuka lebar menanti kedatanganmu”, kata Jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib ummatku kelak?” Rasulullah balik bertanya.

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali ummat Muhammad telah berada di dalamnya”, kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat saat Malaikat Maut melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya sakarotul maut ini”, lirih Rasulullah mengaduh.

Fathimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

“Jijikah engkau melihatku sehingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal”, kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya, Allah dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada ummatku”, rintih Rasulullah menahan sakit yang tak terkira.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.

“Uushikum bi sholati wa maa malakat aiy manukum, peliharalah sholat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”, desahnya.

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fathimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii....ummatii...ummatii .. (umatku... umatku....) ”
Dan putuslah kembang hidup manusia mulai itu.

KINI MAMPUKAH KITA MENCINTAI BELIAU
BESERTA AJARANNYA
SEPERTI BELIAU MENCINTAI KITA(UMMATNYA)?

putriku

Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.


Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlan nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.


Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.


Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.


Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.


Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.


Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.


Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!


Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.


Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.


Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.


Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.


Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.


Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?


Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?


Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.


Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.


Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.


Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab :


Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.


Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york. Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?


Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.


Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.


Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.


Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.


Inilah nasehatku padamu, putriku। Inilah kebenaran। Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik. (wallahul musta’an).


Disarikan dari buku : “Wahai Putriku” Ali Thanthawi , Ulama Mesir.

hijab

KEUTAMAAN HIJAB ATAU JILBAB

Sesungguhnya seorang wanita muslimah akan menemukan dalam hukum Islam perhatian yang sangat tinggi terhadap dirinya, agar dapat menjaga kesuciannya, menjadi wanita mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri). Inipun bukan untuk mengekang kebebasannya akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sorotan mata.

Hijab Simbol Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah SWT telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah SWT:
وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Allah SWT juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah SWT:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)
Allah SWT berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Allah SWT berfirman:

} وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ {

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah SWT berfirman:

} يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ {

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah SAW bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

Hijab itu ‘iffah

Allah SWT menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).

Allah SWT berfirman:
} ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ {
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

Hijab itu kesucian

Allah SWT berfirman:

} وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ {

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah SWT menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah SWT berfirman:
} فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ {
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)

Hijab itu pelindung

Rasulullah SAW bersabda:
((إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ))
“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”
Sabda beliau yang lain:
(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))
“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”
Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

Hijab itu taqwa

Allah SWT berfirman:
} ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ {
“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)

· Hijab itu iman

Allah SWT tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah SWT juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

· Hijab itu haya’ (rasa malu)

Rasulullah SAW bersabda:
((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
Sabda beliau yang lain:
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”
Sabda Rasul yang lain:
((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

· Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

KEJELEKAN TABARRUJ
(berhias bukan untuk suaminya)

· Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul.

Barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikitpun.
Rasulullah SAW bersabda:
((كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إلاَّ مَنْ أبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى))
“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang menolak” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah orang yang menolak itu? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah menolak.”

· Tabarruj menyebabkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
((سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ، عَلَى رُؤُوسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ البَخْتِ ، اِلْعَنُوهُنَّ فَإنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ))
“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka bagaikan punuk unta, laknatlah mereka karena mereka adalah wanita-wanita yang pantas dilaknat.”

· Tabarruj adalah sifat penghuni neraka.

Rasulullah SAW bersabda:
((صِنْفَانِ مِنْ أهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ... ))
“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat; kaum yang membawa cemeti bagai ekor sapi yang digunakan memukul menusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang...”

· Tabarruj penyebab hitam dan gelap di hari kiamat.

Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda:
((مَثَلُ الرَّافِلَةِ في الزِّينَةِ في غَيْرِ أهْلِهَا ، كَمَثَلِ ظُلْمَةٍ يَوْمَ القِيَامَةِ لاَ نُورَ لهَا))
“Permisalan wanita yang berhias untuk selain suaminya, adalah bagaikan kegelapan pada hari kiamat, tidak ada cahaya baginya.”

Maksudnya adalah wanita yang berlenggak-lenggok ketika berjalan dengan menarik pakaiannya, akan datang pada hari kiamat dalam keadaan hitam dan gelap, bagaikan berlenggak-lenggok dalam kegelapan. Dan hadits ini walaupun lemah, tetapi artinya benar, karena kenikmatan dalam maksiat adalah siksaan, wangi-wangian akan menjadi busuk dan cahaya menjadi kegelapan. Kebalikan dari taat, bahwa bau mulut orang yang berpuasa dan darah orang yang mati syahid lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi.

· Tabarruj adalah kemunafikan.

Rasulullah SAW bersabda:
((خَيْرُ نِسَائِكُمُ الوَدُودُ الوَلُودُ ، المُوَاسِيَةُ ، المُوَاتِيَةُ ، إذَا اتَّقَيْنَ اللهَ، وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ))

“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang memiliki kasih sayang, subur (banyak anak), suka menghibur dan siap melayani, bila mereka bertakwa kepada Allah. Dan sejelek-jelek wanita kalian adalah wanita pesolek dan penghayal mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurab a’sham.”

Yang dimaksud ghurab a’sham adalah burung gagak yang memiliki cakar dan kaki merah, pertanda minimnya wanita masuk surga, karena burung gagak yang memiliki sifat seperti ini sangat jarang ditemukan.

· Tabarruj mengoyak tirai pelindung dan membuka aib.

Rasulullah SAW bersabda:
((أيَّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا، فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ))
“Siapa saja di antara wanita yang menanggalkan pakaian-nya di selain rumah suaminya, maka ia telah mengoyak tirai pelindung antara dirinya dan Allah Azza wa Jalla.”

· Tabarruj adalah perbuatan keji.

Wanita itu adalah aurat, dan membuka aurat adalah keji dan dibenci. Allah SAW berfirman:
} وَإذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إنَّ اللهَ لاَ يَأْمُرُ بِالفَحْشَاءِ {
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakan-nya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” (Q.S. Al-A’raf: 28)
Sebenarnya setanlah yang memerintahkan manusia melakukan perbuatan keji itu, sebagaimana firman Allah:
} الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ {
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (Q.S. Al-Baqorah: 268)

· Tabarruj adalah ajaran iblis.

Sesungguhnya kisah Adam dengan Iblis memberikan gambaran kepada kita bagaimana musuh Allah, Iblis itu membuka peluang untuk melakukan perbuatan dosa dan mengoyak tirai pelindung dan bahwa Tabarruj itulah tujuan asasi baginya. Allah SWT berfirman:
} يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا {
“Hai anak Adam! Janganlah kamu sekali-kali dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Q.S. Al-A’raf: 27)
Jadi iblislah yang mengajak kepada Tabarruj dan buka-bukaan. Dialah pemimpin utama bagi para pencetus apa yang dikenal dengan Tahrirul Mar’ah (pembebasan wanita).

· Tabarruj adalah jalan hidup orang-orang Yahudi.

Orang-orang Yahudi memiliki peran yang sangat besar dalam menghancurkan umat ini melalui wanita, dan kaum wanita sejak dulu memiliki pengalaman di bidang ini, di mana Rasulullah SAW bersabda:
((فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ ، فَإنَّ أوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسْرَائِيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ))
“Takutlah pada dunia dan takutlah pada wanita karena fitnah pertama pada Bani Israel adalah pada wanita.”

· Tabarruj adalah Jahiliyah busuk.

Allah SWT berfirman:
} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى {
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)
Nabi SAW telah menyifati ajakan Jahiliyah sebagai ajakan busuk dan kotor. Jadi ajakan Jahiliyah adalah saudara kandung Tabarruj Jahiliyah. Rasulullah SAW bersabda:
((كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أمْرِ الجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ تَحْتَ قَدَمِي))
“Semua yang merupakan perkara Jahiliyah tersimpan di bawah telapak kakiku.”
Baik itu bernama Tabarruj Jahiliyah, ajakan Jahiliyah ataupun kesombongan Jahiliyah.

· Tabarruj adalah keterbelakangan.

Buka-bukaan dan telanjang adalah fitrah hewan ternak, tidak seorangpun yang condong kepadanya kecuali dia akan terperosok jatuh ke derajat yang paling rendah dari pada derajat manusia yang telah dimuliakan Allah. Dari sini nampaklah bahwa Tabarruj adalah tanda kerusakan fitrah, ketiadaan ghirah dan mati rasa:

Anda mengangkat baju hingga lutut
Demi Tuhanmu, sungai apa yang akan anda seberangi
Baju itu bagaikan naungan di waktu pagi
Yang semakin pendek, waktu demi waktu
Anda mengira bahwa laki-laki itu tidak memiliki perasaan
Padahal anda sendiri yang mungkin tidak punya perasaan


· Tabarruj adalah pintu adzab yang merata.

Seseorang yang memperhatikan nash-nash syare’at dan sejarah (Islam) akan meyakini adanya kerusakan yang ditimbulkan oleh Tabarruj dan bahayanya atas agama dan dunia, apalagi bila diperparah dengan Ikhtilath (percampurbauran antara laki-laki dan wanita).

Akibat dan bahaya Tabarruj

Wanita-wanita yang melakukan Tabarruj berlomba-lomba menggunakan perhiasan yang diharamkan untuk menarik perhatian kepadanya. Sesuatu yang justru akan merusak akhlak dan harta serta menjadikan wanita sebagai barang hina yang diperjualbelikan, dan di antara bahayanya adalah:
1. Rusaknya akhlak kaum lelaki khususnya para pemuda yang terdorong melakukan zina yang diharamkan ini.
2. Memperdagangkan wanita sebagai sarana promosi atau untuk meningkatkan usaha perdagangan dan sebagainya.
3. Mencelakan diri wanita sendiri, karena Tabarruj itu menunjukkan niat jelek dari apa yang ia suguhkan untuk menggoda orang-orang jahat dan bodoh.
4. Tersebarnya penyakit, seperti sabda Rasulullah SAW:
(( لَمْ تَظْهَرِ الفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا ))
“Tidaklah suatu perbuatan zina itu nampak pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu.”
5. Mempermudah mata melakukan maksiat, Rasulullah SAW bersabda: “Kedua mata zinanya adalah melihat.” Serta menyulitkan ketaatan ghadhul bashar (menundukkan pandangan) yang merupakan sesuatu yang lebih berbahaya dari ledakan bom atom dan gempa bumi. Allah SWT berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (Q.S. Al-Isra’: 16)
Dalam hadits juga disebutkan:
((إنَّ النَّاسَ إذَا رَأَوْا المُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ أوْشَكَ أنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ))
“Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan mereka adzab.”

Wahai ukhti muslimah! Tidakkah anda memperhatikan hadits nabi SAW: “Buanglah duri dari jalan kaum muslimin.” Dan bila membuang duri dari jalan termasuk cabang iman, maka duri manakah yang lebih berat, batu di jalan atau fitnah yang merusak hati, menerbangkan akal dan menyebarkan kekejian di antara orang-orang mu’min.

Sesungguhnya tidaklah seorang lelaki muslim terkena fitnah pada hari ini karena anda yang telah memalingkannya dari mengingat Allah dan menghalanginya dari jalan yang lurus -padahal anda sanggup mencegahnya dari fitnah itu- kecuali di hari esok nanti Allah akan menghukum anda dengan adzab yang sangat pedih.

Segeralah taat kepada Allah, tinggalkan kritikan dan ejekan manusia, karena perhitungan Allah kelak sangat ketat.
Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rojih.
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparant.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

Jangan berhias terlalu berlebihan

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

Kami Dengar lalu Kami Ta'ati (sami'na wa atha'na)

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan.

Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:
} وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47) وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) {

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:
} إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52) {

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah SAW dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

Sholawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

jiwa

MENGGAPAI KETENANGAN JIWA
اَلْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ واليقينِ، وقال للنبي: (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ). أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ جَاءَنَا بِالإِسْلاَمِ القَوِيْمِ وَبِالْهُدَي، لِنَكُوْنَ بِهِ مِنَ الأَبْرَارِ السُّعَدَاءِ، وَنَصُوْنُ بِهِ أَنْفُسَنَا مِنَ الشَّقَاءِ وَالرَّدَي.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد،ٍ خاتم الأنبياء والمرسلين، وعلي آله الطيبين، وأصحابه الأخيار أجمعين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT...
Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.

Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis, yaitu:

1. Dzikrullah.
Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta’awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram (13:28).
Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu’min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.

2. Yakin Akan Pertolongan Allah
Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.
Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (3:126, lihat juga QS 8:10).

Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah berfirman yang artinya: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman: "bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS 2:214)

3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah
Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. Allah berfirman yang artinya: Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)". Allah berfirman: ("kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS 2:260).

4. Bersyukur
Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.
Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat(QS 16:112).

5. Tilawah, Tasmi’ dan tadabbur Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi’) dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur’an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: Allah telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya (QS 39:23).

Oleh karena itu, sebagai mu’min, interaksi kita dengan al-Qur’an haruslah sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Al-Qur’an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur’an saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (QS 8:2).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua
الحمد لله الملك الوهاب، الجبارالتواب، الذي جعل الصلات مفتاحا لكل باب، فالصلاة والسلام علي من نظر الي جماله تعالي بلا سطر ولا حجاب وعلي جميع الآل والأصحاب وكل وارث لهم الي يوم المآب. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعده. أما بعد.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Swt…

Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku (QS 89:27-30).

Akhirnya, menjadi tanggungjawab kita bersama untuk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya. wallahu a'lam.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَي يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.وَأَقِمِ الصَّلاَةِ!

challenges

Muslims and Modern Challenges
Maulana Wahiduddin Khan

Muslims have been faced with problems on diverse fronts for more than a hundred years and have been struggling to meet the challenges since the second half of the 19th century. The Muslim leaders of those times were of the view that the actual cause of all their problems was the political domination of the western nations, and that only bringing to an end that political domination could solve their problems.

This goal was fully achieved after the Second World War, when all Muslim countries became free from foreign rule. However, their problems, far from being solved have persisted till today with undiminished intensity.

What is the reason for this? The reason is traceable to the fact that western dominance was, in fact, the result of modern industrial civilization. Since the western nations continued to grow as industrial powers, even after losing their political power, their domination continued, the only difference being that where their domination had earlier been a direct one, it now became indirect.

Given the negative results of their struggles, certain Muslim intellectuals have attributed their failure to solve their problems to the industrial backwardness. They hold that only by the acquisition of industrial power similar to that of the developed nations can their destiny be changed.

This, however, is not the solution to our problems. Time does not standstill. New developments are constantly taking place. This means that, even if, by a supreme effort, we managed to enter the industrial age, by the time we did so, the western nations, in the words of Elvin Toffler, would have entered the 'super industrial age.' In this way we would continue to lag behind, and our actual problems would continue to remain unsolved.

The kind of problems and challenges Muslims are faced with today, at political, economic and cultural levels, is in no way a new state of affairs never before encountered.

In their long history the Muslims have repeatedly experienced such situations in various forms. History shows, moreover, that the Muslim Ummah has always emerged far more powerful and consolidated after passing through the dangers and challenges of the various phases of their history.

Now, what we must grasp is how Ummah formerly faced such problems and the challenges. The sole answer offered by history is that on each occasion of adversity success was achieved through the d'awah power of Islam.

The Mongols, barbarous and bloody in their methods of warfare, succeeded in inflicting extraordinary harm on Muslims in the middle of the thirteenth century. They appeared invincible. But then, miraculously, the d'awah power of Islam emerged and the Mongols were conquered. Referring to this event, an oriental observes: 'The religion of the Muslims had conquered where their arms had failed.'

Muslims must rise today with the help of this d'awah power of Islam. If they were to perform their da'wah work properly, their condition would certainly change for the better. They would themselves benefit as has been expressed in the Qur'an in these words: "Good and evil deeds are not alike. Requite evil with good, and he, between whom and you is enmity, will become your dearest friend." (4:34)

The opportunities to revive this d'awah process of Islam have increased to an extraordinary degree. The scientific study of religions has proved that all other religions besides Islam have lost their credibility. No other religion is historically credible. Whereas Islam has been proved to be authentic in every scientific analysis. In this way Islam is in a position to gain an unopposed victory.

So far as human 'isms' are concerned, they have all been failures, the most obvious example being the collapse of the communist empire. While it was still in existence, the world was under the misapprehension that it possessed an ideology. But this false conviction gave way when the communist empire fell apart in 1991. Now, all over the world there is an ideological vacuum. And it is the kind of vacuum that can be filled only by Islam. Now the time has finally come for Muslims to rise with the power of Islamic d'awah to build a new history for Islam through an ideological conquest of the nations.

What we have to do now is to repeat that experience of our history, which has unfailingly proved its success at all times. That is, we must avail of the d'awah power of Islam in order to counter the challenges and problems we are faced with. In their long history Muslims have always gained success through d'awah power and today, too, by putting it to good use, they can certainly emerge victorious.

The secret of d'awah power conquering all in its path lies in its emphasis on profitability. God's law for this world is that what is useful for people gains stability and acceptability among the people. Islam, of all religions, is the most beneficial. It provides the answer

to man's search for truth. It furnishes man with a true ideology of life. It gives man mental peace. It is exactly in accordance with human nature. It helps man discover the thoroughfare by which he can safely complete his journey from this world to the hereafter. Undoubtedly there is nothing more profitable to man, and that is what makes Islam the most acceptable of all religions. The partial success of d'awah work can be seen even today, even when it is not being performed in an organized way at the community level.

Over the last hundred years countless political sacrifices have been made, without there having been any real gain, whereas during the same period tens of thousands of people, impressed by the teachings of Islam, have entered the fold of Islam.

Islam is a religion of nature. It has the only un-interpolated scriptures. It is such factors as these, which have made Islam into an effective, force on its own. That is why people continue to embrace Islam in every country and in every region of the world. You may not be able to carry out elaborate research on the subject, but if you just read through the weekly Al D'awah, published in Riyadh you will find such instances in almost every one of its issues.

The importance of d'awah has been established in both theory and practice. The need of the hour is, therefore, the adoption of d'awah work as our most important program, and the diversion of all our strength and resources towards this end.

creator

Islam: Creator of Modern Age
A Review by Imani Muslim

Having read God Arises, a powerful treatise on the proofs of God in the Universe, by Maulana Wahiduddin Khan, I was anxious if somewhat nervous to read his new work, Islam: Creator of the Modern Age. While I looked forward to delving into another of this writer’s good books, my fear was that his latest work might not live up to my expectations. I realized my fears were baseless by the time I had reached the second or third page. Maulana’s scholarship again proves fascinating and his writing style infinitely readable.

The basic premise of Islam: Creator of the Modern Age is that without the advent of Prophet Muhammad (œ) and the final establishment of monotheism on the earth, none of what we take for granted in the modern world could possibly have developed. Quoting sources as diverse as Bertrand Russell and Encyclopaedia Britannica, the Maulana takes us on a trip through history and around the world. He deftly presents his facts until we reach the conclusion that without monotheism the concepts of experimentation and scientific enquiry, not to mention modern industrialization, would not exist.

Take for example the ancient Greeks. Their society was steeped in polytheism and superstition. Many natural phenomena were believed to be endowed with godly powers. It was impossible to scientifically investigate something so revered. Consequently, people worshipped nature rather than explore it.

We tend to think of ancient Greece as a free thinking democracy. In fact this is not entirely true; only the upper classes were allowed any latitude; free speech and free thought were actively discouraged to protect the hold of the man-made religions over the populace. The Greek rulers like many others throughout time have used the polytheistic beliefs of their subjects to shore up their own power, claiming divine ancestors and the "divine right of kings".

The Maulana moves forward to modern day India where he points out that the attribution of divinity to the non-divine or the concept of shirk has had far reaching consequences. Dr. M.S. Swaminathan, former director of the Indian Agricultural Institute, New Delhi, blames "protein hunger" or lack of animal protein in the Hindu diet for the prospect of intellectual dwarfing of the nation’s youngsters. Because people worship the cow, a food source, their children suffer from malnutrition while not necessarily going hungry.

In the chapter on Muslim contributions to science, the Maulana discusses areas as diverse as the solar system and historiography. In every case, the Islamic concept of the oneness of God, coupled with the teaching of man’s role as God’s viceregent on earth have enabled the Muslims to investigate and harness the earth’s resources for the betterment of mankind as a whole. Far from worshipping things found in the heavens and on earth, Muslims have been able to look into the unexplained and take advantage of the things the Creator has given us to improve our lives.

In this book, the Maulana has once more made science and philosophy infinitely understandable. He draws on a wealth of sources to make his arguments. He presents Islam as it should be, as a religion of logic and reason, dazzling in its perfection and simplicity. One comes away with the feeling the Islam might just be the best kept secret in the western world.
[components/artnhome.htm]

charity

The Concept of Charity in Islam
Maulana Wahiduddin Khan

Charity, preached by every religion of the world, is a way of bringing justice to society. And justice is the essence of religion. Islam has therefore made charity, that is, zakat, obligatory and binding upon all those who embrace the faith; it has been made into an institution in order to give it permanence and regularity.

All human beings, according to Islam, have been created by one and the same God, and for this reason they belong to one great brotherhood. All being descendants of the same progenitor, Adam and Eve, they should naturally be each other’s well-wishers. They must willingly come to one another’s assistance, like members of the same large family. Islam has, therefore, laid the greatest of emphasis on the support of destitute and disabled members of society. It is a sacred duty of the wealthy to give part of their possessions to fulfill the needs of the deprived sections of the community.

A society can flourish only when its members do not spend all their wealth on the satisfaction of their own desires but reserve a portion of it for parents, relatives neighbours, the poor and the incapacitated. As the saying goes: Charity begins at home. A true believer is thus always prepared, after meeting the needs of his family, to assist other people in need of his help.

There are two forms of charity in Islam—obligatory and voluntary, called zakat and sadaqa respectively. Zakah, from the verb zaka, which signifies “to thrive,” “to be wholesome,” “to be pure” means purification. Giving up of a portion of the wealth one may possess in excess of what is needed for sustenance, is to “purify” or legalize it so that the remainder may lawfully be used by the alms giver.

Deducting zakat from one’s earnings is a material acknowledgment of the fact that the actual giver is God. Since the giver is God, the recipient is duty bound to spend it in His cause.

The law of zakat is to take from those who have wealth and give it away to those who do not. This rotation of wealth is a way to balance social inequality.

Islam has established this institution to make concern for the poor a permanent and compulsory duty. This means an annual contribution of two and a half percent of one’s income to public welfare. The rate on other types of wealth such as agricultural produce and jewelry is more. It is incumbent on minors and adults, males and females, living or dead.

Islamic law empowers the Islamic State or Community to collect such contributions and keep a separate account of them. The funds thus accumulated must be spent on the eight categories specified in the Qur'an (2:177) namely, the poor and the destitute, the wayfarer, the bankrupt, the needy, converts, captives, the collectors of zakat, and in the cause of God. The last category allows such funds to be used for the general welfare of the community— for the education of the people, for public works, and for any other need of the Muslim community.

Zakat in spirit is an act of worship while in its external form it is the carrying out of social service. It is thus not just the payment of a tax as it is generally understood but is rather an act of religious significance. Its importance is underscored by the fact that the Qur'an treats it at par with salat (prayer). The Qur'an frequently enjoins the believers ‘to perform the worship and pay the zakat.’ It goes to the extent of saying that one cannot attain righteousness unless one spends out of one’s wealth for the love of God: “By no means shall you attain righteousness, unless you give of that which you love.” (3:92)

So the test of charity lies not in giving away something we have discarded but the things that we value greatly, something that we love. It is unselfishness that God demands. It may be in any form—one’s personal efforts, talents, skill, learning, property or possessions.

The demand of Islam that all its followers should spend their wealth freely on the common good of society cannot be fully met by the payment of the obligatory levy of zakat alone. According to a hadith the Prophet observed: “In ones’s wealth there is a due (to God and His men) besides zakat.” Hadrat Ali, the fourth Caliph, explained this hadith thus: “God has ordained that the rich are to pay out of their wealth to that extent which is sufficient for the needs of the poor; so that if they do not find food and clothing, or any other need remains to be fulfilled, it would be because the rich are not doing their duty, and for this God will take them to task on the Day of Judgement.”

According to Abdullah ibn Umar, the great religious scholar of the first phase of Islam, “If the zakat levy is insufficient to meet the needs of the poor, then it is the duty of the rich of every town to put the poor on their feet.”

Abu Zar Ghifari, a companion of the Prophet, reported that the Prophet, while sitting in the shade of the Kabah wall, said, “They are the losers.” Abu Zar enquired, “who are they, O Messenger of God?” The Prophet replied: “Those who pile up heaps of wealth and (pointing in all directions with his hands) do not spend like this and this.” (Bukhari and Muslim)

There are many verses in the Qur'an and many traditions of the Prophet making it quite clear that there is a due over and above zakat and that the wealthy are not relieved of their duties solely on payment of zakat.

The Qur'an uses the word ‘haq,’ the right of the poor; so what the wealthy man is asked to give is not charity but that which should come back to the poor, as a matter of right.

All the expenditure of people in need in an Islamic society is covered by sadaqat (meaning literally ‘righteousness’ from the root sadaqa, to speak the truth, to be true) — a very wide term used in the Qur'an. (In Islamic literature, this is referred to as sadaqat al tatawwu, or spontaneous alms-giving). According to Ibn Arabi (Akham al-Quran, 2/946-7), alms-giving is called sadaqat to indicate the sincerity (sidk) of the giver’s religious belief. He goes on to say that sadaqat is a voluntary act of worship, a choice made of one’s own free will. If the act is other than voluntary, it has no religious merit. “For man makes it obligatory for himself, just as God makes mercy obligatory for Himself towards those who repent.” The only difference between sadaqat and zakat (the latter being a term widely used in the Quran and the hadith) is that while both kinds of alms-giving are necessarily voluntary (that being the reason for the word sadaqat covering both forms of contribution) the former is the result of an inspiration on the part of the donor as befits certain sets of circumstances, whereas zakat is given on the basis of a fixed percentage of the donor’s wealth, (nisab) so that the amount given will vary not according to the needs of a particular donee, but according to the earnings of the donor. In the case of zakat there is also a system of collection set up under Islamic law and there are persons appointed as collectors of these dues. The money thus collected is meant for the general benefit of the community. In the case of sadaqat, the bequest is made directly and spontaneously from one individual to another and the amount given is at the discretion of the giver.

If a very high standard has been set for charity, it is because zakat and sadaqat are performed by believers not just as moral obligations to society, but as sincere endeavours to gain God’s pleasure. In his commentary on the Quran, Abdullah Yusuf Ali writes:

(1) “It must be in the way of God (2) It must expect no reward in this world (3) It must not be followed by reference or reminders to the acts of charity (4) Still less should any annoyance or injury be caused to the recipient e.g. by boasting that the giver relieved the person in the hour of need.”

Thus the spirit of kindness and well wishing is the essence of charity. The giver is not to expect any reward from the beneficiary as there awaits for him an abundant reward from God—material, moral, and spiritual — what God deems it best to confer on His servant.

The Quran in verses 264 and 271 of the second chapter, warns us against spending “to be seen of men.” This is false charity. Alms-giving with this motive is worse than not giving away anything at all. In verse 265 God gives a beautiful parable to illustrate the true nature of charity. It is like a field with good soil on a hillside. It catches good showers of rain and the moisture penetrates the soil. The favourable conditions increase its output enormously. So a man of true charity is spiritually healthy. He is the most lkely to attract God’s bounties. The Quran goes on to give four parables to explain the truly spiritual nature of charity (2:261-266) . These parables explain how true charity bears on the whole of our lives.

Since charity is purely for the sake of God, it has value only if something good and valuable is given . It should be lawfully earned or acquired by the giver. It should include such things as are of use and value to others. Charity is , in the words of the Prophet, to place a thing in the palm of God. It is therefore obvious that placing worthless things in the hand of God dishonours Him.

There are some people who think that acts of charity would ruin them. Abdullah Yousuf Ali comments on such doubts: “No kind or generous act ever ruined one.” We have never heard of anyone who, due to his generosity to good causes, has been impoverished. It is because God has promised to shower such a person with greater bounties (2:268). On the other hand, false generosity, that is, extravagant expenditure for show or self indulgence does lead people to ruin.

In verse 273 the Quran states that “Charity is for those in need.” This is a general principle which enjoins us to help people in need, be they good or bad, on the right path or not, Muslims or non-Muslims. We are not supposed to judge in these matters. The chief ends in charity, as reiterated here, should be God’s pleasure and our own spiritual good. This verse in the first instance was revealed in Madina, but it is of general application.

The concept of charity in Islam is thus linked with justice. It is not limited to the redressal of grievances. It implies apart from the removal of handicaps, the recognition of the right that every human being has to attain the fullness of life.

This spirit of helping others to earn God’s pleasure is best reflected in Muslim society in the field of education. Inspired by traditions of the Prophet that the greatest charity for a Muslim being to learn something, and then teaching it to others (Ahmad) Muslims in large numbers have devoted themselves to other’s education generation after generation.

Knowledge is the most wonderful thing in the whole universe. That is why there is nothing greater than knowledge being imparted by one human being to another. Muslims on a large scale have engaged themselves in receiving education and imparting it to others, individually as well as by establishing maktabs and madrasas, that is, primary schools and Colleges. These educational institutions established in the house of the teachers or in separate buildings, generally made no charges for instruction. During the medieval period, these madrasas flourished in tens of thousands throughout the Muslim world. The wealthy people helped in running these madrasas, not only through zakat, but also by making endowments, (wakf) of their properties to these madrases. The income from these properties met the needs of these schools. The orphans and poor people were given stipends over and above free board and lodging (Promotion of Learning in India, by W.N. Law, H. 104-5)

Sadaqa in the form of wakf is known as sadaqa-e- jaria, i.e. permanent alms. Helping someone to establish himself in business, giving someone a proper education; helping someone recover from some disease by monetary assistance to looking after the orphans and the destitute; giving scholarships to students, all such charitable works come under sadaka jaria—that is why so many centres of social welfare have continued to function in the Muslim community. It is unfortunate that the figures of individuals assisting people in need are not available. There are such traditions as stress the importance of giving sadaqa in the holy month of Ramazan. Therefore, in this month of fasting, almost all those who can afford it help the poor people in one way or another. The reward for giving voluntary alms in secret is seventy times that of giving it publicly (Al-Baydawi, Anwar al-Tanazil, 2/211).

Sadaqat is a very wide term and is used in the Quran to cover all kinds of charity. Its scope is so vast that even the poor who can have nothing tangible to give can offer sadaqa in the shape of a smile or a glass of water to a thirsty person, or they may even just utter a kindly word. Good conduct is frequently termed sadaqa in the hadith. Planting something from which a person, bird or animal later eats also counts as sadaqa. In this extended sense, acts of loving kindness, even greeting another with a cheerful face, is regarded as sadaqa. In short, every good deed is sadaqa.

The Practice of Sadaqa

Inspired by the verses of the Quran and the traditions and practices of the Prophet and his companions, the giving of Sadaqa to individuals or institutions remained widespread among the Muslims. The Prophet was the most generous of men. He used to give with his own hand. When asked for anything, he never refused. If he had nothing to give, he would borrow from one of his companions and pay him later.

The Prophet’s wives were also known for their almsgiving. Of them Zaynab bint Jahsh was the most generous and was called by the Prophet “the longest in arm.” She was also known as the “mother of the poor” (umm al-masakin) for her almsgiving. Aisha, the youngest wife of the Prophet too was known as the mother of the poor.” (Al-Ghazali, Ihya ulum al-din, vol-1/298). Whenever anyone uttered words of blessing for her, she used to return the same with some alms. After them we have shining examples of generosity set by the pious caliphs. Once when the Prophet urged them to give sadaka, Umar bin al Khattab brought half of what he owned, but only to find that once again Abu Bakr had outdone him by giving away all that he had.

There is a very interesting example of the generosity of Usman, the third Caliph. During the Caliphate of Abu Bakr people were in great distress due to a drought. The Caliph told them to remain patient, for God would soon relieve them. Before long Uthman’s caravan arrived with its merchandise from Syria. There were one thousand camels in it, all of them loaded with wheat and foodstuffs from Syria. When the news got around Madina, all the great traders of Madina rapidly converged on Usman’s house. When he emerged to meet them, they expressed their urgent desire to purchase the foodstuffs so that they could pass it on to those townspeople who needed it.

Ushering them inside, he asked them how much profit they were prepared to give him on this merchandise. “Twelve dirhams on every ten dirhams worth,” they replied. “But I can get a better price,” said Usman. “Then we’ll give you fourteen,” Usman again said that he could get a better price, whereupon they put their price up to fifteen dirhams. But Usman stood firm. Bewildered by his attitude, they asked him who could give him a better price, considering that all of the merchants of Madina were already assembled there. “I can get ten dirhams for every dirhams’s worth,” he told them, then asked them if any one of them could give a better price than that. No one spoke up. Then Usman recited the verse of the Quran which says that those who do good will be rewarded tenfold (6:60) He explained to them that he intended to give away all the wheat and other foodstuffs to the needy people of Madina.

According to the teachings of Islam the giving of sadaqa serves a number of functions. Sadaqa first and foremost acts as expiation for sins. The believers are asked to give sadaqa immediately following any transgression (Ihya-e-Ulumuddin, Al-Ghazzali, 1/298). Voluntary alms-giving can also compensate for any shortcoming in the past payment of zakat. Sadaqa also gives protection against all kinds of evil. Sadaqa wards off affliction in this world, questioning in the grave and punishment on Judgement Day. (Ismail Hakki, Tafsir Ruh-alBayan, 1/418). It is therefore recommended to give sadaqa by night and by day, in secret and in public to seek God’s pleasure (Quran, 2:274). The constant giving of a little is said to please God more than the occasional giving of much. Sadaqa is also a means of moral edification. It purifies the soul from the evil of avarice. Sadaqa is a reflection of generosity of God / the All-giving. We conclude with a hadith which sums up the essence of Charity:

“Every good act is charity. Your smiling to your brother is charity; an exhortation of your fellowman to virtuous deeds is equal to alms-giving; your putting a wanderer on the right road is charity; your assisting the blind is charity; your removing stones, and thorns, and other obstructions from the road is charity; your giving water to the thirsty is charity. A man’s true wealth, as regards the Hereafter, is the good he does in this world to his fellow men. When he dies, people will say “what property has he left behind him?” But the angels will ask, “what good deeds has he sent before him?”

ambassador

Ambassadors of Islam
Maulana Wahiduddin Khan

Umm Haram bint Milhan, a Sahabiya, (a companion of the Prophet) was married to Ubadah ibn as-Samit Ansari. Along with her husband she undertook several trips to foreign countries. Now her grave is in Cyprus, and is called the grave of the pious woman (Hayat As-Sahaba 1/592). The grave of Khalid ibn al-Walid, who was born in Mecca, is in Hims (Syria).

The same is the case with the majority of the Companions of the Prophet. At the time of the Prophet’s demise, his companions numbered more than one hundred thousand. However it is worth noting that if you go to Mecca and Medina you will find only a small number of graves there. The reason for this is that these companions left Arabia and spread to various countries far and beyond its borders. The majority of them breathed their last in various Asian and African countries, where their graves still exist.

Why did this happen? It was because during his last days the Prophet gathered his companions together in the mosque in Medina and addressed them in these words: God has sent me as his messenger for the entire world. So you do not differ with one another. And spread in the land and communicate my message to people inhabiting other places besides Arabia. (Seerat Ibn Hisham 4/279).

It was this injunction of the Prophet that led to the Sahaba (companions of the Prophet) settling in foreign lands. In those countries either did business or earned their living by hard work, all the while communicating to their non-Muslim compatriots the message of monotheism which they had received from the Prophet. Every one of them thus became a virtual ambassador of Islam. This resulted in Islam spreading across the globe. Its evidence can still be seen in the inhabited world of that time.

I feel history is repeating itself in modern times. New circumstances, produced in the wake of industrial revolution, have resulted in Muslims leaving their homelands to spread all over the world. Today, whichever part of the globe you visit, you will find Muslims there. Mosques and Islamic institutions have come up everywhere. Muslims have settled in these countries either for work or for business. However, in respect of their religion, their actual position is that of Islam’s representatives. It is as if each one of them is an ambassador of God. Now the need of the hour is to awaken the missionary spirit in these Muslims settled in foreign lands, so that they may effectively communicate the message of Islam—a task of universal magnitude made incumbent upon them by their new sets of circumstances.
[components/artnhome.htm]

Rabu, 13 Oktober 2010

islam

Qur'an in Arabic
Learn Arabic
The Five Pillars of Islam
1

Proclaim "There is no god but God, and Muhammad is his Prophet." The First Pillar, Profession of Faith, Shahadah affirms in the face of temptation that only God is worthy of worship and that Muhammad, a human being, brought God's message.
2

Pray five times a day at prescribed times. Prayer, Salat reminds Muslims of their global community as all Muslims pray at the same time. Those who pray are directly linked to God. Call to Prayer occurs at dawn, noon, mid-afternoon, sunset and nightfall.
3

Perform financial obligation, Zakat. Muslims are called to set aside calculated portions of their earnings for those less fortunate among them. This is in direct response to the Prophet Muhammad (PBUH), who prescribed, "'Charity is a necessity for every Muslim. " Offering Zakat also purifies what a Muslim retains.
4

Fast during Ramadan, Sawm. During the month of Ramadan, all who are able fast daily from dawn to dusk. Muslims abstain from food, drink and sexual relations. Those who are excepted are the ill, travelers, women who are menstruating and the elderly. Fasting serves as purification and as self-restraint. Sawm is an edict of Allah in the Qur'an.
5

Make pilgrimage to Makka, Hajj. All Muslims who are able, in the twelfth month of the lunar year, must make hajj to the holy city of Mecca once in their lifetime. Pilgrimage involves special clothing, visits in prescribed manners to the Ka'bah, the hills of Safa and Marwa, the plains of 'Arafat, Mina and the festival, the 'Id al Adha.


Read more: How to Practice the Five Pillars of Islam | eHow.com http://www.ehow.com/how_2324236_practice-five-pillars-islam.html#ixzz12FgudkNs

Jumat, 08 Oktober 2010

अप इतु teroris

A. PENGERTIAN TENTANG TERORIS

Sebelum kita membahas tentang terorisme menurut pandangan agama Islam, terlebih dahulu marilah kita pahami tentang pengertian terorisme. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, artinya :

Terorisme : Adalah Penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik).

Teroris : Adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik).

Teror : Adalah perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan.

Selanjutnya mari kita cermati dan kita tela'ah kembali ajaran Islam, agama yang diridhai Allah SWT sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia yang sedang kita jalani sekarang ini maupun kebahagiaan hidup yang haqiqi di akhirat kelak.

Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam di tengah-tengah manusia ini sebagai rahmat dan merupakan suatu kenikmatan yang besar bagi manusia bukan suatu musibah yang membawa malapetaka. Allah SWT berfirman :


Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiyaa' : 107]


 

Dari ayat tersebut dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain, menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW dan Islam yang diserukannya benar-benar membawa rahmat di alam semesta ini dan tidak mengajarkan kekerasan, dan mengeluarkan manusia dari gelap-gulita (tanpa mengetahui tujuan hidup) ke alam yang terang-benderang sehingga mengetahui jalan yang lurus yang membebaskan dirinya dari kesesatan menuju jalan yang menyelamatkan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak.

Oleh karena itu seharusnyalah manusia bersyukur kepada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad SAW membawa dinul Islam ini. Karena hanya dengan Islamlah manusia di dunia ini dapat hidup rukun, damai dan saling menebarkan kasih sayang. Dengan mengabaikan Islam, maka dunia akan kacau-balau, terorisme timbul di mana-mana seperti sekarang ini.

        Agama Islam yang suci ini dibawa oleh Rasulullah yang mempunyai kepribadian yang suci pula, serta memiliki akhlaqul karimah dan sifat-sifat yang terpuji sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi.


*Dan
sedangkan terorisme sendiri adalah sebuah kelompok yang memakai cara kekerasan kepada orang yang tidak punya masalah dengan mereka. Kekerasan tersebut adalah sarana untuk mengintimidasi, melukai, dan memaksa orang lain supaya tunduk kepada kemauannya. Meskipun dalam persepsi mereka hal tersebut merupakan tindakan yang adil.

Misalnya adalah pembajakan pesawat terbang, biasanya antara pembajak dan penumpang pesawat tidak ada masalah dan perselisihan, pembajak melakukan hal itu sebagai tekanan untuk mencapai tujuan tertentu. Seperti menekan pemerintahan pesawat yang dibajak agar mengabulkan permintaan pembajak. baik membebaskan tawanan, membayar tebusan, dan lain sebagainya.

Begitu pula dengan tindakan menyandera, penyandera dan yang disandera tidak saling kenal. Namun, orang yang menyandera melakukan hal tersebut sebagai sarana untuk melakukan tekanan. Tujuannya agar keinginannya dipenuhi, jika tidak maka sandera akan dibunuh. Sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf di Filiphina dan lainnya.


 


 

    Dan, seperti tragedi 11 September 2001 di New York dan Washington yang berupa pembajakan pesawat terbang beserta penumpangnya. Antara penumpang dengan pelaku pembajakan tidak ada masalah dan pertentangan. Para pembajak melakukan hal tersebut sebagai "alat tempur" untuk meledakan orang yang ada didalamnya dan menekan politik Amerika.

DR. Yusuf Al-Qardhawi berkata " Jika saya mengecam kekerasan secara umum, Saya mengecam terorisme secara khusus, karena didalamnya ada serangan kepada manusia yang tidak berdosa, "Dan orang – orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain"(Fathir : 18)


Selain itu terorisme juga selalu mengintimidasi orang-orang yang tidak berdosa. Padahal dalam Islam mengintimidasi termasuk kedhaliman yang besar.

Adapun makna kekerasan sendiri adalah aksi yang dilakukan oleh kelompok dengan menggunakan kekuatan tidak pada tempatnya atau tanpa mengindahkan batasan akhlak , agama, dan hukum. Maksud tidak pada tempatnya adalah sebenarnya kelompok tersebut bisa menggunakan hujjah/alasan, baik dengan kata – kata dakwah, maupun dialog dengan cara yang paling santun. Ketika kita menggunakan kekerasan, kelompok tersebut tidak peduli terhadap orang yang dibunuh. Mereka tidak bertanya pada diri dirinya, apakah calon korbannya boleh dibunuh atau tidak? Mereka memposisikan dirinya sebagi mufti, hakim, dan polisi.*


 


 


 


 


 


 


 


 

* ) KITA DAN BARAT Hal. 67 Karya DR. Yusuf Al-Qardhawi Pustaka Al-Kautsar

B. TERORISME DAN SEJARAHNYA


Kata terorisme berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan antipemerintah. Selanjutnya kata terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan antipemerintah di Rusia. Dengan demikian kata terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang antipemerintah.

Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk murni dari terorisme dengan mengacu pada sejarah terorisme modern. Meski istilah teror dan terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.


Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Sejarah mencatat, pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan massal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.


 


 


 



Bentuk pertama terorisme terjadi sebelum Perang Dunia II.  Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50-an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan "serangan yang bersifat acak" terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan.


Bentuk ketiga terorisme muncul tahun 60-an dan terkenal dengan istilah "Terorisme Media", berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu: Kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM.


Pasca-Perang Dunia II, dunia tidak pernah mengenal "damai". Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik timur-barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik utara-selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya terorisme. Fenomena terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an. Terorisme dan teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya.

Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik, yaitu adanya maksimalisasi korban secara sangat mengerikan, keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin, tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap terorisme yang sudah dilakukan. Dan, serangan terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.


 


 

C. ISLAM MENOLAK TERORISME


Islam itu bukan teroris, karena Islam sebagai agama mengandung makna kedamaian, ketentraman dan cinta kasih sayang kepada semua makhluk. Sedangkan terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradabanyang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan , perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisir dengan baik (well organized), bersifat transnasional dan digolongkan sebagai kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) yang tidak membedakan sasaran.

Oleh karena itu Islam sangat menentang sikap tersebut, karena sebagai agama, Islam didasarkan pada prinsip-prinsip dasar, dengan yang utama percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mematuhi aturan-aturan-Nya yang mengatur perilaku manusia dalam segala aspek kehidupan. Dan Islam juga menghargai bahkan memuliakan setiap manusia tanpa harus memandang warna kulit, bahasa, ras atau bahkan agama, Sebagaimana firman-Nya, yang artinya :

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam,Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan".(QS. Al-Israa' :70)


Oleh karenanya, maka islam melarang setiap umatnya untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain dengan mengatasnamakan agama, baik dalam bentuk teror , intimidasi fitnah, dan apalagi pembunuhan.

Islam sangat menghormati hak hidup seorang manusia, sehingga melarang mereka yang tidak bersenjata dan musuh, terhadap masyarakat sipil serta harta kekayaan mereka.serangan atas hidup seseorang, apakah dengan membunuh, mengancam, meneror, yang menjadikan orang takut seperti kasus-kasus terorisme belakangan ini adalah merupakan serangan terhadap hak hidup seluruh manusia.


 


 


 


 

D. JIHAD BUKAN TERORISME

Munculnya aksi-aksi teror, kekerasan-kekerasan yang diiringi perusakan yang dikaitkan dengan jihad oleh pelakunya, membuat kita perlu mengkaji ulang tentang konsep jihad yang benar menurut Islam. Karena sering kali makna jihad disalah artikan oleh sebahagian orang sebagai dalil pembenaran untuk melakukan tindakan kekerasan , terorisme , dan perbuatan makar. Dari berbagi pelaku teroris yang telah ditangkap oleh pihak kepolisian, semuanya menyatakan bahwa perbuatan mereka adalah jalan tercepat untuk masuk surga, karena merupakan jihad. Dengan mengutip ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits mereka yakini bahwa tindakan teror yang mereka lakukan adalah jihad fi sabilillah.

Terminologi "Jihad" berasal dari akar kata bahasa Arab
"Jahada" yang berarti "usaha sungguh-sungguh". Pada awal masa Islam, doktrin jihad secara konotatif tidak memiliki makna lain kecuali berjuang di jalan Allah dengan cara-cara persuasif atau damai sebagaimana dalam ayat-ayat Alquran yang diwahyukan sebelum hijrah. Jihad diperintahkan kepada orang-orang beriman, dengan tujuan untuk menegakkan shalat,menunaikan zakat, serta amar ma'ruf nahi mungkar . Esensinya adalah "Menegakkan tata moralitas sosial Islam", dengan cara damai dan Rasul pun berdakwah dengan cara lemah lembut walaupun pengikutmya memperlakukan dengan kejam.*

Jika aksi-aksi kekerasan dan teror tersebut dipahami sebagi sebuah jihadmenegakkan agama Allah, kita tentu bertanya,pernahkah Allah memerintahkan kepada para nabi untuk berdakwah dengan jalan kekerasan? Tentu tidak, karena Rasul berdakwah dengan jalan kelembutan dan penuh kesabaran.Tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa diantara sifat Nabi Muhammad keras. Walaupun dalam Al-quran disebutkan bahwa Beliau adalah Asyiddaa'u 'alal kuffar, namun hal itu ditafsirkan sebagai sifat tegas bukan keras.


 


 


 


 


 

Fundamentalisme Islam dan jihad, Hal.8 Karya Chaider S. Bamuali

E. TERORISME DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM DI INDONESIA DAN DAPAT MERUSAK KEDAULATAN NEGARA


Terorisme merupakan puncak dari aksi kekerasan, bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi dan sabotase. Sasarannya umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Timbulnya terorisme sebagian besar diakibatkan karena adanya ketidakadilan, atau balas dendam, antara pihak-pihak yang berinteraksi baik skala perorangan, organisasi, maupun antar Negara. Dan ini jelas sekali bahwa aksi terorisme sangat-sangat menganggu dan dapat merusak keutuhan dan kesatuan sebuah negara.Akibat dari aksi terorisme ini dapat menimbulkan konflik antar umat beragama dan ini bisa menganggu keharmonisan antar umat.

Selanjutnya berkaitan dengan upaya penegakan hukum secara tegas bagi pelaku terorisme di Indonesia, pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Kemudian dalam rangka memerangi aksi terorisme kita perlu persyaratan kesiapan yang meliputi : (1) Kesiapan di bidang politik, yakni perlunya dukungan penuh dari masyarakat bahwa terorisme musuh bangsa dan negara yang harus diberantas.(2) Kesiapan dibidang hukum, peraturan perudangan dibidang pemberantasan terorisme merupakan agenda mutlak.(3) Kesiapan dibidang operasional, yakni kesiapan adanya antiteror yang bekerjasama dengan semua pihak. Dan ini semua upaya yang harus kita lakukan demi menjaga keutuhan dan kesatuan negara kita.


 


 


 


 

__ F. KESIMPULAN

Islam mengutuk keras tindakan terorisme dengan motif apapun, karena berbeda dengan misi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, dan agama yang menjunjung tinggi nada kedamaian. Islam tidak mengajarkan kekerasan seperti tindakan teroris ini, yang hanya dapat merusak kedaulatan dan kesatuan sebuah negara.

Kalau seandainya tindakan terorisme diatasnamakan jihad fi sabilillah, ini satu kesalahan besar. Jihad memang merupakan bagian terpenting dalam ajaram Islam.Namun demikian para tidak serta merta mengartikan jihad itu sebagai perang. Jihad bukan hanya mengangkat senjata melawan musuh, tapi jihad itu juga bisa berupa perbuatan atau harta benda, jihad melalui pemikiran-pemikiran, menuntut ilmu. Jika penegakan kebenaran dilakukan dengan cara kekerasan dan pengrusakan dan mengancam kerusakan kesatuan negara maka hal itu bukan lagi disebut jihad namun terorisme. Maka kita jangan salah mengartikan makna jihad yang sebenarnya.Dan semoga kita tidak termasuk orang yang melakukan tindakan terorisme dan terus mengibarkan bendera perdamaian di permukaan bumi ini.

DAFTAR PUSTAKA


 


 

Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA. Kumpulan Khutbah jum'at Isam dan Terorisme, Rahmat Semesta Center; Jakarta, 2008.

DR. Yusuf Al-Qardhawi, Kita dan Barat,Al-Kautsar; Jakarta, 2007.

Chaider S. Bamualim, Fundamentalisme Islam dan Jihad, PBB UIN; Jakarta, 2003.

Abduh Zulfidar Akaha, Siapa Teroris Siapa Khawarij, Pustaka Al-kautsar; Jakarta, 2006.